Posted by: mini | February 1, 2009

Profil PIP

A.LATAR BELAKANG
Keberadaan PIP tidak lepas dari kondisi ikhwah selama mengikuti kursus di Pare. Kondisi dan aktivitas tarbiyah akan tetap tejaga manakala ada media atau wajihah yang bisa menyediakan menu untuk menyuplai kebutuhan ruhiyah mereka. Di Pare khususnya wilayah kursusan adalah wilayah strategis tetapi belum terkelola dengan baik.
Ikhwah fillah, tentunya kita menyadari bahwa waktu adalah sesuatu yang terus berjalan. Dan penjagaan kondisi adalah menjadi hal yang penting. Ke-Tawazun-an kita dalam menjalani aktifitas kursusan yang berdasarkan “pengalaman” memerlukan wadah atau forum untuk menyatukan persepsi, gerak dan langkah berdasarkan kondisi dan apa yang kita rasakan.
B.MEDIA
Harapan :
1.Sarana menjalin ukhuwah
2.Pelayanan kepada ikhwah dirantau
3.Penjagaan tarbawi dan menampung ekspresi dakwah
4.Ekspansi dakwah pada wilayah yang lebih luas.
PUSAT INFORMASI PELAYANAN KOS DAN KURSUSAN
1.Sarana atau bentuk pelayanan kepada kader secara khusus maupun amah secara umum terkait informasi kursusan
2.Sayap dakwah yang memperluas jaringan dakwah di kalangan pengelola kursusan maupun masyarakat.
KISS (Kajian Islam Sabtu Sore)
1.Sarana penjagaan ruhiyah, silaturahim dan penambahan wawasan kader
2.Syi’ar Islam di wilayah kursusan dan masyarakat sekitar
3.Sarana recruitmen kader baru dengan memfollow up peserta kajian.
4.Diadakan setiap :
Hari : Sabtu
Pukul : 16.00
Tempat : Ruang California, Mahesa Institute
KARIMA
Sarana penjagaan ruhiyah khusus untuk para akhwat di Pare. Ini direncanakan di adakan setiap :
Hari : Jum’at
Pukul : 16.00
Tempat : Mushola BEC (Basic English Course)
PUBLIKASI
Publikasi terkait pengadaan KISS dan KARIMA

Posted by: mini | January 27, 2009

STRATEGY OF DAKWAH

Pernahkah Anda melihat atau memperhatikan iklan sebuah produk pewangi atau pengharum ruangan dengan berbagai variasi iklannya? Salah satunya adalah tentang sebuah keluarga yang menggunakan salah satu produk pengharum ruangan dengan aroma terapi. Diceritakan bahwa ketika suami yang baru pulang dari kerjanya dan dalam kondisi yang sapek dan lelah. Pada saat memasuki ruangan, sang suami merasa ada sesuatu yang berbeda masuk ke dalam tubuhnya ketika menghirup udara di dalam rumah. Kondisi capek yang dirasakan sebelumnya tiba-tiba “hilang” dan berganti dengan kesegaran yang berasal dari aroma terapi yang dihirup, seolah-olah berada di sebuah taman yang sejuk dengan berbagai bungan yang mekar menghiasi di sekeliling taman.
Ada yang menarik dari iklan itu untuk dianalisis dari sisi trategi (komunikasi) pemasaran. Di sini saya tidak akan membicarakan tentang produk pengharum ruangan tadi, atau tentang si suami tadi dalam iklan tersebut, namun berkaitan dengan apa yang sebenarna (value) yang ingin dipasarkan oleh produsen pengharum tadi kepada konsumennya (customer). Dari iklan tersebut seolah digambarkan bahwa seseorang yang menggunakan produk pewangi tadi tidak hanya mendapatkan bau wangi dari pengharum ruangan sesuai dengan fungsi dasar dari produk tersebut tetapi mereka juga merasakan pengalaman (experience) yang berbeda yaitu aroma yang menenangkan atau menyejukkan bukan hanya karena udaranya saja tetapi juga hatinya menjadi sejuk.
Fenomena di atas sudah marak dan hamper sebagian besar menjadi bentuk strategi pemasaran pada perusahaan-perusahaan modern. Diantaranya yang diterapkan pada took-toko roti modern di kota-kota besar seperti Jakarta, dll. Di antara strateginya adalah dengan menghadirkan suasana dapur pembuatan roti di hadapan pelanggan. Bahkan merekapun membiarkan para pelanggan melihat koki pembuat roti tersebut asyik membuat roti dengan tangan-tangan belepotan adonan. Padahal daulu, rahasia dapur ini adalah sesuatu yang tabu diperlihatkan di muka umum, karena mereka biasanya tidak ingin pelanggan melihat suasana dapur yang berantakan hadir di depan mereka.
Namun demikian, hal-hal seperti itulah yang justru membuat pembeli roti rela antri dan membayar lebih. Hal ini karena mereka tidak sekedar ingin membeli roti saja, tetapi juga pengalaman (experience), yang mereka peroleh dari bau roti, suasana dapur yang berantakan dan suasana lain yang diciptakan pada saat membeli roti. Hal ini kemudian disimpulkan bahwa mereka dating dan membeli roti bukan hanya ingin mendaoatkan rasa roti yang enak tetapi sebuah pengalaman yang tercipta.
Itulah dinamakan Experimental Marketing (ME), sebuah strategi pemasaran di aman memasarkan barang tidak hanya soal produk yang berkualitas tetapi sudah keluar dari nilai dasarnya yaitu dengan memberikan pengalaman (experience) dari produk. EM sudah menjadi trend dalam dunia pemasaran dengan jargonnya …they don’t buy product or service, but they buy experience… yang menggebrak dunia pemasaran pada akhir tahun 90-an.
Secara teoritis konsep EM lair dari pemikiran bahwa kondisi sekarang, untuk memasarkan barang tidak hanya mengandalkan fitur (bentuk) dan benefit (manfaat) saja sebagai senjata. Karena kedua hal tersebut akan mudah ditiru oleh para pesaing. Jadi kalau anda hanya mengandalkan fitur dan benefit dalam memasarkan produk (dakwah), maka Anda akan termasuk pemasar (dai) tradisional. Prof. Bend Schmitt dari Havard Business School mengatakan bahwa berpikir tentang fitur dan benefit hanya akan membiarkan strategi anda dicuri oleh para pesaing. Konsep EM harus dilakukan dengan cara : memahami isi dari merk dan seperti apa produk yang diinginkan konsumen atau pelanggan (customer). Langkah selanjutnya adalah mengelola lingkungan sekitar merk tersebut. Sehingga EM adalah soal memahami lifestyle konsumen dan proses dalam mengkonsumsinya.
Jika kita lihat secara sederhana konsep EM adalah ingin mengubah kebiasaan menjadi sesuatu yang unik di mata konsumen. Sebagai contoh kalau kita lihat pada pompa-pompa bensin modern di kota-kota besar seperti Jakarta, pompa bensin Shell dan Petronas misalnya, tidak hanya memberikan pelayanan mengisi bensin, tetapu ada pelayanan tambahana seperti mengisi angina, mengelap kaca dan bahkan pembeli nyaman dapat meninggalkan mobil dan diparkirkan oleh petugas khusus tanpa merasa takut kehilangan mobilnya atau dicurangi dalam mengisi bensinnya, karena sudah menggunakan billing computerized, dan itu semua diberikan secara gratis.
Pertanyaan besar yang kemudian diajukan adalah bagaimana konsep bisnis ini diterapkan untuk “bisnis” kita dengan Allah (dakwah)???. Kalau mereka yang berkutat dengan urusan dunia (materi) saja dan “bervisi” dunia dan sesuatu yang tidak berhubungan dengan akhirat saja mereka berusaha dengan segala cara dan upaya yang strategis untuk mensukseskan bisnisnya, bagaimana dengan kita yang sedang “berbisnis dengan Allah”, yang sudah jelas balasannya, dunia dan akhirat. Apakah sudah kita konsep dengan canggih dan strategis??> bukankah Allah telah membeli diri dan harta kita dengan “profit” surga? (QS At Taubah 111). Lantas apa dan dengan alat tukar apa kita serta sudah kita persiapkan untuk “membeli” surgaNya???
Bahwa dakwah merupakan kewajiban 100% sudah menjadi keyakinan kita, tetapi dakwah perlu “dipasarkan” tidak Cuma dengan dalil Al Quran dan Hadits saja, tetapi juga dengan experience yang kemudian orang tidak merasa sebagai sebuah kewajiban, tetapi sebagai sebuah kebutuhan dan bahkan sebagai sebuah kenikmatan, sehingga kader dakwah akan loyal dan menikmati dalam berdakwah. Bukankah yang kita tawarkan kepada costumer adalah Surga?, bahkan bisnis kita adalah bisnis yang paling profit, prestigious dan elit ini kita hadirkan dengan standar kaki lima saja, atau mungkin kita justru tidak PD dengan dakwah ini…???
Bukankah Rasul SAW justru mencontohkan dakwah penuh experience???? Kita bisa membuka shirah tentang bagaimana cerdasnya Rasul menghadirkan dakwah dengan penuh experience. Bagaimana Rasul bisa menghadirkan surga di hadapan para sahabat, sehingga ketika beliau berbicara tentang surga para sahabat merasakan experience seolah-olah surga itu di hadapan para sahabatnya. Atau ketika menceritakan neraka, maka para sahabat dengan serta merta menangis tersedu-sedu karena takut akan adzab Allah.
Lalu bagaimana dengan dakwah kita??? Sudahkah kita menghadirkan experience sebagaimana Rasul contohkan. Sebuah dakwah yang menimbulkan sense di mata, telinga dan hati para obyek dakwah (costumer), sehingga menimbulkan feel dalam perasaan dan emosi mereka yang pada tahap selanjutnya akan menimbulkan think dibenak para obyek dan pada akhirnya akan act menyambut dakwah ini. Sehingga akan menghasilkan costumer (kader) yang loyal dan siap di dalam jalan dakwah ini.
Semua berpulang pada apakah kita masih mempunyai keinginan yang kuat untuk “memasarkan” dakwah ini dengan cerdas, professional, dan modern? Jawabannya tentu HARUS. Yah… kita harus bisa “mengemas” dakwah ini agar dapat menghadirkan experience di mata obyek dakwah “costumer”. Oleh karena itu, mari kita hadirkan dakwah ini dengan lebih special, karena dakwah adalah bisnis kita sesungguhnya dengan Allah SWT. Bisnis yang sudah pasti untung dunia wal akhirat.

Wallahu a’lam bisshhowaab…

Posted by: PIP | November 15, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories